Kenali, 12 Ciri-Ciri Kucing Rabies yang Perlu Diwaspadai

Kenali, 12 Ciri-Ciri Kucing Rabies yang Perlu Diwaspadai

Pernah nggak sih kalian merasa cemas ketika melihat kucing kesayangan tiba-tiba berperilaku sangat aneh? Atau mungkin kalian pernah bertemu dengan kucing liar yang terlihat sangat agresif tanpa sebab yang jelas? Nah, bisa jadi itu merupakan tanda bahwa kucing tersebut sudah terinfeksi rabies. Tak hanya berbahaya bagi hewan peliharaan, rabies juga bisa menular ke manusia dan berakibat fatal. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, angka kematian akibat rabies di Indonesia tergolong masih cukup tinggi. Dan yang lebih mengejutkan lagi, meskipun 98% kasus rabies ditularkan melalui gigitan anjing, namun sebanyak 2% kasus lainnya ternyata juga berasal dari kucing dan kera.​

Rabies sendiri disebabkan oleh infeksi virus Lyssavirus yang menyerang sistem saraf pusat dan bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Virus ini biasanya menyebar melalui air liur hewan yang terinfeksi, baik lewat gigitan, cakaran, bahkan jilatan pada luka terbuka. Sayangnya, hingga saat ini belum ada obat yang betul-betul efektif untuk menyembuhkan rabies setelah gejalanya mulai muncul. Itulah mengapa, mengenali ciri-ciri kucing rabies sejak dini akan sangat berguna untuk melindungi diri kalian dan keluarga dari bahaya penyakit mematikan ini.​

Tahapan Rabies pada Kucing

Sebelum masuk ke ciri-ciri yang jauh lebih spesifik, perlu diketahui bahwa rabies pada kucing biasanya berkembang melalui beberapa tahapan. Dan setiap tahap memiliki karakteristik unik yang dapat membantu kalian mengidentifikasi penyakit ini lebih awal.

Tahap 1: Masa Inkubasi 

Masa inkubasi merupakan periode pertama setelah kucing terinfeksi virus rabies, namun dimasa ini kucing belum menunjukkan gejala apa pun yang dapat terlihat.

Berapa lama masa inkubasi berlangsung?

Masa inkubasi rabies pada kucing umumnya berlangsung antara 35 hingga 65 hari, meskipun dalam beberapa kasus bisa lebih singkat atau lebih panjang. Lamanya masa inkubasi dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, seperti:​

  1. Lokasi gigitan: Jika kucing digigit di area kepala atau leher, virus akan mencapai otak lebih cepat.
  2. Jumlah virus yang masuk: Semakin banyak virus masuk, semakin cepat gejala akan muncul.
  3. Kondisi sistem imun kucing: Kucing dengan sistem imun yang lemah akan menunjukkan gejala lebih cepat.​

Mengapa tahap ini penting?

Selama masa inkubasi, kalian tidak akan melihat gejala apa pun pada kucing, meskipun mereka sebetulnya sudah membawa virus rabies dan berpotensi menularkannya. Inilah alasan mengapa vaksinasi rutin menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan, terutama jika kucing kalian sering berada di luar rumah atau berinteraksi dengan hewan liar lain.​

Tahap 2: Periode Prodromal (2-10 Hari Pertama)

Setelah masa inkubasi berakhir, kucing akan mulai menunjukkan gejala-gejala awal yang sangat umum terjadi saat kucing sedang sakit. Periode ini disebut tahap prodromal dan berlangsung selama 2 hingga 10 hari.​

Gejalanya meliputi:

  • Demam ringan dengan suhu tubuh yang sedikit meningkat.
  • Perasaan tidak enak badan secara umum (malaise).
  • Perubahan perilaku dari yang tadinya aktif menjadi pendiam atau sebaliknya.
  • Penurunan nafsu makan yang signifikan.
  • Kucing terlihat kurang berenergi dan lebih banyak tidur.
  • Mungkin ada sedikit air liur atau tanda-tanda ketidaknyamanan di area luka gigitan sebelumnya (jika ada).​

Mengapa sulit dideteksi?

Gejala-gejala pada tahap ini sangat mirip dengan penyakit umum lainnya seperti flu atau infeksi ringan lainnya. Sehingga banyak pemilik kucing yang tidak menyadari bahwa kucing mereka terkena rabies.

Tahap 3: Periode Eksitasi atau “Mad Dog Stage” (2-7 Hari)

Jika penyakit terus berkembang, kucing akan memasuki periode eksitasi atau yang sering disebut “mad dog stage” alias anjing gila. Ini adalah tahap paling berbahaya di mana perilaku kucing menjadi agresif dan tidak dapat diprediksi.​

Gejala-gejala pada tahap ini:

Agresi ekstrem terhadap siapa pun yang mendekat. Mata membesar dengan pupil yang melebar penuh. Air liur yang berlebihan dan busa di mulut. Kucing akan terus waspada dan sensitif terhadap cahaya, suara, dan gerakan. Kejang-kejang ringan atau tremor otot. Kucing akan menggigit apa pun yang ada di sekitarnya, bahkan benda mati. Tingkat kepedulian kucing terhadap rasa sakit akan berkurang drastis.​

Tahap 4: Periode Paralisis (Tahap Lumpuh)

Tahap terakhir rabies adalah periode paralisis, di mana kelumpuhan bertahap mulai menguasai tubuh kucing. Tahap ini biasanya berlangsung selama beberapa hari sampai akhirnya berakhir dengan kematian.​​

Perkembangan gejala paralisis:

Kelumpuhan dimulai dari salah satu area tubuh dan secara bertahap menyebar ke seluruh tubuh. Seringkali dimulai dari kaki belakang, membuat kucing tidak mampu berdiri atau berjalan. Kelumpuhan akan terus menyebar ke arah kepala, mempengaruhi kemampuan menelan dan pernapasan. Kucing akan menjadi sangat lemah dan tidak responsif. Akhirnya, ketika kelumpuhan mencapai otot-otot pernapasan, kematian akan terjadi dengan cepat.​​

Berapa Lama Kucing Bertahan setelah Gejala Mulai Muncul?

Salah satu fakta yang paling menyedihkan tentang rabies adalah bahwa hampir tidak ada harapan untuk kesembuhan setelah gejalanya mulai muncul. Dari saat gejala awal muncul hingga kematian, kucing biasanya hanya bertahan selama 3 hingga 10 hari. Dalam kebanyakan kasus, kematian terjadi dalam waktu 7 hari setelah gejala-gejala neurologis pertama kali terlihat jelas.​​ Oleh karena itu, pencegahan melalui vaksinasi adalah satu-satunya cara yang benar-benar efektif untuk melindungi kucing dari penyakit ini.​

Ciri-Ciri Kucing Rabies yang Harus Kalian Waspadai

Ciri-Ciri Kucing Rabies yang Harus Kalian Waspadai

1. Perubahan Perilaku yang Sangat Drastis

Salah satu tanda paling menonjol dari kucing rabies adalah perubahan perilaku yang ekstrem dan mendadak. Kucing yang biasanya ramah dan penyayang tiba-tiba bisa menjadi sangat agresif tanpa alasan yang jelas. Sebaliknya, kucing yang biasanya aktif dan periang bisa tiba-tiba menjadi pendiam dan suka menyendiri. Perubahan temperamen ini terjadi karena virus rabies mulai menyerang sistem saraf dan otak kucing.​​

2. Hiperaktif dan Gelisah

Kucing yang terinfeksi rabies seringkali mengalami hiperaktivitas yang tidak biasa. Kucing akan terus bergerak atau tidak bisa diam. Mereka terlihat gugup dan cemas sepanjang waktu. Kucing yang tadinya ramah dengan anggota keluarga bisa tiba-tiba menjadi agresif atau tidak ingin didekati. Ada kecenderungan untuk terus bersembunyi di sudut gelap rumah atau mengisolasi diri dari keluarga. Kucing mungkin akan berubah menjadi mudah tersinggung dan sensitif terhadap hal-hal kecil yang sebelumnya tidak mengganggu mereka.​

Perubahan perilaku ini bisa berlangsung selama beberapa hari pertama sebelum gejala-gejala yang lebih serius muncul. Jadi, jika kalian melihat kucing kesayangan tiba-tiba berperilaku sangat berbeda dari biasanya, sangat penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter hewan.​

3. Perilaku Agresif Berlebihan

Di tahap mad dog, kucing akan menjadi sangat agresif dan berbahaya. Mereka akan memperlihatkan gigi dan cakarnya pada provokasi sekecil apa pun. Kucing bisa menyerang orang atau hewan lain tanpa pemicu yang jelas. Perilaku agresif ini sangat berisiko karena pada tahap inilah manusia biasanya terinfeksi rabies. Kucing akan terlihat seperti kehilangan akal dan sedang mengamuk.​

4. Keluar Air Liur dan Busa dari Mulut Secara Berlebihan

Salah satu ciri paling klasik dan mudah dikenali dari rabies pada kucing adalah produksi air liur yang berlebihan atau yang sering disebut dengan hipersalivasi. Ini adalah gejala yang muncul ketika virus sudah mulai menginfeksi saraf-saraf yang mengontrol otot-otot di area rahang dan tenggorokan kucing.​

Air liur akan terus menetes dari mulut kucing, menciptakan busa atau cairan berbusa di sekitar area mulut. Tidak jarang kalian akan menemukan busa putih atau berkilau di sekitar wajah, bekas tempat tidur, atau lantai di mana kucing biasanya berdiam diri. Kemampuan kucing untuk menelan secara normal akan terganggu, sehingga air liur akan terakumulasi di mulut mereka.​

Mengapa ini terjadi?

Virus rabies menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot yang bertanggung jawab untuk menelan makanan dan air liur. Akibatnya, kucing tidak dapat mengontrol aliran air liur mereka seperti biasanya. Kelumpuhan parsial ini pada area tenggorokan dan rahang menjadi alasan mengapa hipersalivasi terjadi dan menjadi salah satu gejala paling khas yang bisa dilihat dengan jelas.​

Jika kalian melihat tanda-tanda ini, sangat penting untuk tidak membiarkan air liur kucing menyentuh kulit kalian, khususnya jika ada luka terbuka. Virus rabies dapat ditransmisikan melalui air liur, dan ini adalah salah satu cara penularan yang paling efektif.

5. Kehilangan Nafsu Makan

Virus rabies menyerang sistem saraf pusat kucing, termasuk area otak yang mengontrol nafsu makan dan dorongan untuk makan. Selain itu, kucing yang terinfeksi mungkin akan mengalami demam ringan atau rasa tidak enak badan secara umum, sehingga membuat mereka tidak tertarik untuk makan.​ Hal inilah yang membuat kucing bisa tiba-tiba menolak makanannya atau tidak menunjukkan minat pada makanan favoritnya sama sekali.

6. Sering Bersembunyi dan Mengasingkan Diri

Di tahap prodromal, kucing yang terinfeksi rabies cenderung menjadi pemalu dan selalu bersembunyi. Mereka kehilangan minat terhadap makanan dan menunjukkan perilaku depresi atau mengasingkan diri. Kucing yang biasanya ekstrovert dan suka berinteraksi tiba-tiba menjadi kurang penyayang dan sering menyendiri.​

7. Fotofobia (Takut Cahaya)

Kucing yang terinfeksi rabies akan menjadi sangat sensitif terhadap cahaya terang atau fotofobia. Mereka akan menjauhi cahaya yang terang dan bereaksi dengan agresif ketika terpapar cahaya. Kondisi ini merupakan salah satu gejala neurologis yang muncul akibat kerusakan pada sistem saraf yang disebabkan oleh virus rabies.​

8. Hidrofobia (Takut Air)

Gejala klasik rabies lainnya adalah hidrofobia atau ketakutan terhadap air. Kucing akan menunjukkan rasa takut yang tidak rasional terhadap air dan menghindari minum. Kondisi ini terjadi karena virus rabies sudah mulai merusak otak dan sumsum tulang belakang.​

9. Hipersensitif terhadap Rangsangan

Kucing rabies menjadi sangat sensitif dan bereaksi berlebihan terhadap rangsangan lingkungan di sekitarnya. Mereka tidak tahan dengan suara bising dan akan bereaksi agresif terhadap sentuhan atau suara yang mereka anggap mengganggu. Bahkan rangsangan kecil seperti gerakan atau suara bisa memicu kucing untuk menyerang.​

10. Kejang-Kejang

Ketika rabies sudah memasuki tahap yang lebih parah, kucing akan mengalami kejang-kejang. Awalnya, kucing akan merasa lemas dan enggan bergerak. Lama-kelamaan, tubuhnya akan berkedut dan menyebabkan kejang. Kejang ini merupakan tanda bahwa virus sudah sangat merusak sistem saraf pusat.​​

11. Kelumpuhan Bertahap

Tahap kelumpuhan adalah fase terakhir dari rabies pada kucing. Kelumpuhan dimulai dari ketidakmampuan untuk menggerakkan otot-otot rahang atau tenggorokan (jaw lock). Kemudian kelumpuhan akan berpindah secara perlahan dari tenggorokan dan rahang ke bagian tubuh lain seperti kaki belakang, sehingga kucing kesulitan berjalan. Akhirnya kelumpuhan menyebar ke seluruh tubuh hingga otot yang mengontrol pernapasan.​​

12. Demam dan Kelemahan

Pada fase awal infeksi, selama 2-4 hari pertama, kucing akan mengalami demam dan kurang energi dari biasanya. Kucing terlihat lesu, lemas, dan kehilangan kontrol pada otot tubuh. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai penyakit biasa, padahal bisa jadi merupakan tanda awal infeksi rabies.​

Bagaimana Kucing Bisa Tertular Rabies?

Kalian mungkin bertanya-tanya, bagaimana sih kucing bisa terkena rabies? Rabies ditularkan melalui beberapa cara yang berbeda.

Cara utama penularan:

  1. Gigitan dari hewan terinfeksi, ini adalah cara paling umum penularan rabies. Virus dalam air liur hewan terinfeksi akan masuk ke aliran darah melalui luka gigitan.​
  2. Cakaran dari hewan terinfeksi, meskipun lebih jarang daripada gigitan, virus rabies juga dapat ditularkan melalui cakaran jika virus dalam air liur hewan mengenai luka yang dihasilkan dari cakaran.​
  3. Kontak dengan air liur, jika air liur dari hewan terinfeksi masuk ke luka terbuka, selaput lendir (seperti di dalam mulut atau mata), penularan dapat terjadi.​

Hewan apa saja yang bisa menularkan rabies ke kucing?

Kucing paling sering tertular rabies dari kontak dengan hewan liar seperti kelelawar, musang, atau rubah. Namun, kucing juga bisa tertular dari anjing atau kucing lain yang terinfeksi. Di Indonesia, penularan dari anjing masih menjadi yang paling umum terjadi.​

Langkah Pencegahan Rabies pada Kucing

Langkah Pencegahan Rabies pada Kucing

Betul kata pepatah, bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Terlebih untuk kasus rabies yang belum ada obatnya. Berikut beberapa langkah pencegahan yang bisa kalian lakukan:​

1. Vaksinasi Rutin

Vaksinasi rabies merupakan cara yang paling efektif untuk melindungi kucing dari virus ini. Menurut American Veterinary Medical Association (AVMA), anak kucing harus menerima vaksin rabies pertama mereka pada usia 12-16 minggu. Setelah vaksinasi pertama, kucing harus mendapatkan vaksin booster 1 tahun setelahnya, kemudian vaksin booster diberikan setiap 1-3 tahun sekali tergantung jenis vaksin yang digunakan.​

2. Batasi Interaksi Kucing Peliharaan dengan Hewan Liar

Jauhkan kucing peliharaan kalian dari hewan liar yang berpotensi membawa virus rabies. Kalian bisa mengurangi kemungkinan penularan rabies dengan membawa kucing jalan-jalan menggunakan tali dan mengawasinya saat berada di luar rumah. Jika memungkinkan, batasi pergerakan kucing di luar rumah dengan pagar atau kandang agar tidak berkeliaran dengan bebas.​

3. Jaga Kebersihan Kucing dan Kandang

Memandikan hewan peliharaan dan menjaga kebersihan kandang menjadi hal lain yang juga penting untuk dilakukan. Jika kandang dan kucing selalu bersih, itu bisa memperkecil peluang kucing peliharaan kalian terjangkiti rabies. Perhatikan juga agar kucing jangan sampai memakan bangkai hewan lain yang mengandung banyak kotoran dan berbagai macam penyakit, misalnya tikus mati.​

4. Lakukan Pemeriksaan Rutin ke Dokter Hewan

Pemeriksaan kesehatan rutin ke dokter hewan sangat penting untuk memastikan kesehatan kucing dan jadwal vaksin berikutnya. Jika kalian melihat perubahan perilaku yang mencurigakan pada kucing, segera konsultasikan dengan dokter hewan.​

Apa yang Harus Dilakukan Jika Tergigit Kucing Rabies?

Jika kalian atau seseorang yang kalian kenal tergigit atau tercakar kucing yang diduga rabies, jangan panik! Berikut langkah pertolongan pertama yang bisa dilakukan:​

  1. Cuci luka gigitan dengan sabun dan air mengalir hingga luka bersih. Kalian juga bisa menekan area bekas luka untuk membantu membersihkan kuman.
  2. Hentikan pendarahan dengan menekan luka secara perlahan menggunakan kain kasa atau kapas.
  3. Oleskan antiseptik seperti povidone iodine atau alkohol 70 persen pada luka atau area yang dijilat atau digigit untuk membunuh virus dan bakteri.​

Yang paling penting, jangan menunggu sampai gejala muncul. Segera hubungi dokter dan cari pertolongan medis ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Jika memungkinkan, berikan informasi tentang hewan yang menggigit kepada dokter. Di fasilitas kesehatan, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan memberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) serta Serum Anti Rabies (SAR) jika dibutuhkan.​

Penanganan Kucing yang Terinfeksi Rabies

Sayangnya, belum/tidak ada pengobatan untuk kucing yang terinfeksi rabies. Jika seekor kucing dicurigai terkena rabies, langkah yang harus dilakukan adalah mengisolasi atau mengarantina kucing tersebut agar tidak melarikan diri atau melukai siapa pun. Dan segera laporkan hal ini kepada dokter hewan terdekat, karena dokter hewan wajib melaporkan kasus tersebut kepada Dinas Peternakan.​

Cara paling tepat menangani kucing yang terinfeksi rabies adalah dengan melakukan euthanasia atau suntik mati menggunakan metode yang manusiawi. Hal ini dilakukan agar kucing tidak merasa kesakitan dan mencegah penyebaran virus ke manusia atau hewan lain. Jika tidak disuntik mati, biasanya kebanyakan kucing akan mati dengan sendirinya setelah 10 hari.​

Bagi kucing yang sudah divaksin dan kemudian terpapar rabies, dokter hewan akan memberikan vaksin booster dan menetapkan masa karantina sekitar 45 hari. Karantina ini biasanya bisa dilakukan di rumah tergantung peraturan daerah setempat. Hanya dokter hewan dan staf medis yang telah divaksin rabies yang boleh menangani kucing dengan tanda-tanda rabies.​

Diagnosis Rabies pada Kucing

Diagnosis rabies pada kucing merupakan proses yang kompleks dan memerlukan keahlian medis. Sayangnya, hingga saat ini belum ada tes diagnostik yang dapat mendeteksi rabies pada hewan hidup dengan akurat. Diagnosis pasti rabies hanya dapat dilakukan melalui pemeriksaan jaringan otak setelah hewan tersebut mati.​

Namun, dokter hewan biasanya akan mendiagnosis kemungkinan rabies berdasarkan gejala klinis dan riwayat paparan. Pemeriksaan yang dilakukan umumnya meliputi pemeriksaan fisik menyeluruh, menanyakan riwayat vaksinasi rabies, kemungkinan paparan terhadap hewan liar, dan adanya luka gigitan atau cakaran yang mencurigakan. Beberapa tes laboratorium seperti tes antibodi, PCR (Polymerase Chain Reaction), dan tes imunofluoresensi dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan infeksi, meskipun tidak dapat mendiagnosis secara pasti pada hewan hidup.​

Menuju Indonesia Bebas Rabies 2030

Kasus rabies di Indonesia masih menjadi ancaman yang serius. Dari 38 provinsi di Indonesia, hanya 8 provinsi yang bebas rabies sementara sisanya masih menjadi daerah endemik rabies. Selama rentang tahun 2017-2021 misalnya, kasus gigitan hewan penular rabies di Indonesia dilaporkan berjumlah 400.941 kasus dengan 430 kematian.​ Bahkan tahun 2024 lalu, angka kematian akibat rabies di Indonesia mencapai 122 kematian dari 185.359 kasus gigitan. Sementara di tahun 2025 ini saja, sejak awal Januari hingga awal Maret ada 13.453 kasus gigitan dimana 25 diantaranya menyebabkan kematian.

Provinsi dengan jumlah kematian tertinggi antara lain Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Data terbaru menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2023 di Bali saja, tercatat ada 19.035 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) dengan 300 orang positif terinfeksi dan 4 orang meninggal. Hal ini menunjukkan bahwa rabies masih sangat perlu mendapat perhatian serius di masyarakat.​

Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mencapai target Indonesia Bebas Rabies 2030 melalui program eliminasi rabies nasional. Upaya yang dilakukan meliputi peningkatan cakupan vaksinasi hewan pembawa rabies, penguatan surveilans, dan kolaborasi lintas sektor.​

Kesimpulan

Rabies pada kucing adalah penyakit serius yang tidak boleh kalian anggap remeh. Mengenali ciri-ciri kucing rabies sejak dini sangat penting untuk melindungi diri sendiri, keluarga, dan hewan peliharaan dari bahaya penyakit mematikan ini. Perubahan perilaku drastis, air liur berlebihan, perilaku agresif, kejang, dan kelumpuhan adalah tanda-tanda utama yang harus kalian waspadai.

Karena belum ada pengobatan untuk rabies setelah gejala muncul, pencegahan melalui vaksinasi rutin menjadi kunci utama. Pastikan kalian memberikan vaksin rabies pada kucing peliharaan sesuai jadwal yang direkomendasikan dokter hewan. Selain itu, batasi interaksi kucing dengan hewan liar dan jaga kebersihan kucing serta kandangnya.

Jika kalian atau seseorang tergigit atau tercakar kucing yang diduga rabies, segera lakukan pertolongan pertama dengan mencuci luka hingga bersih dan langsung cari pertolongan medis. Jangan menunggu hingga gejala muncul, karena rabies memiliki tingkat kematian hampir 100%. Dengan pemahaman yang baik tentang ciri-ciri kucing rabies dan langkah pencegahan yang tepat, kalian bisa melindungi diri sendiri dan orang-orang tercinta dari ancaman rabies. Stay safe dan selalu waspada!

Dear GOD, Thank you so much for all Your stupid blessing to stupid people like me :)

Share:

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.