Apa Itu Magnet?

Apa Itu Magnet? Definisi, Sifat, Jenis, dan Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari

Pernah nggak sih kalian bertanya-tanya, kenapa pintu kulkas bisa tertutup dengan begitu rapat? Atau kenapa jarum kompas bisa menunjukkan arah utara dan selatan dengan begitu tepat? Hal ini berkat adanya gaya tarik menarik dari magnet. Pada kompas misalnya, jarum kompas dapat secara tepat menunjukkan arah utara dan selatan karena adanya gaya tarik menarik antara jarum kompas dengan magnet bumi. Sementara pintu kulkas dibuat dengan memanfaatkan gaya tarik magnet terhadap benda-benda feromagnetik.

Apa Itu Magnet?

Secara sederhana, magnet adalah benda yang bisa menarik benda tertentu di sekitarnya, terutama yang mengandung bahan logam seperti besi, baja, atau nikel. Benda-benda ini disebut bahan feromagnetik, yaitu bahan yang sangat mudah tertarik magnet.

Sifat-sifat Magnet yang Wajib Kamu Ketahui

Sifat-sifat Magnet

Ada beberapa sifat magnet yang perlu kamu ketahui, yakni:

1. Magnet Dapat Menarik Benda Tertentu

Sifat pertama dan paling mencolok dari magnet adalah kemampuannya untuk menarik benda-benda tertentu di sekitarnya. Namun, penting untuk diketahui bahwa magnet tidak dapat menarik semua jenis benda. Magnet hanya dapat menarik benda-benda yang memiliki sifat-sifat magnetik khusus, terutama benda yang terbuat dari material feromagnetik seperti besi, baja, kobalt, dan nikel.

Mengapa magnet hanya bisa menarik benda tertentu? Hal ini terjadi karena benda-benda tersebut memiliki elektron yang tidak berpasangan yang berputar ke arah yang sama saat didekatkan dengan magnet. Ketika kamu mendekatkan magnet ke besi atau logam feromagnetik lainnya, elektron yang ada pada logam akan bereaksi dan mengarah pada medan magnet, lalu menciptakan tarikan yang kuat.

Sebaliknya, benda-benda seperti kertas, kayu, plastik, dan kain tidak akan tertarik oleh magnet karena struktur elektron mereka tidak memungkinkan interaksi magnetik. Namun, ada juga benda paramagnetik seperti alumunium, mangan, dan timah yang dapat ditarik magnet, meskipun dengan daya tarik yang sangat lemah dibandingkan benda feromagnetik. Daya tarik magnet terhadap berbagai benda ini tergantung pada kekuatan medan magnet dan jarak antara magnet dengan benda tersebut.

2. Magnet Memiliki Dua Kutub yang Berlawanan

Salah satu karakteristik paling fundamental dari magnet adalah fakta bahwa setiap magnet memiliki dua kutub yang berbeda yaitu kutub utara dan kutub selatan. Kutub magnet adalah daerah atau ujung-ujung magnet yang memiliki gaya tarik dan tolak paling kuat dibandingkan bagian-bagian lainnya.

Menariknya, kita tidak dapat memisahkan kedua kutub ini. Jika kamu mencoba untuk memotong magnet menjadi beberapa bagian misalnya, setiap bagian tersebut akan tetap memiliki kutub utara dan kutub selatannya sendiri. Ini menunjukkan bahwa magnet sejatinya terdiri dari magnet-magnet elementer kecil yang memiliki pasangan kutub utara-selatan sendiri. Magnet elementer inilah yang disebut sebagai domain magnetik, dimana susunannya yang teratur kemudian menghasilkan sifat magnetik keseluruhan dari magnet itu sendiri.

Kutub utara magnet juga akan selalu menunjuk ke arah utara geografis bumi, sedangkan kutub selatan akan menunjuk ke arah selatan. Ini terjadi karena bumi itu sendiri adalah magnet raksasa dengan medan magnetik yang sangat kuat. Fenomena ini menjadi dasar kerja kompas yang digunakan para nelayan, pilot, dan penjelajah untuk menentukan arah dengan akurat. Pengetahuan tentang dua kutub magnet ini sangat penting untuk memahami sifat-sifat magnet lainnya.

3. Kutub yang Sama Akan Tolak-menolak, Kutub yang Berbeda Akan Tarik-menarik

Ini adalah salah satu sifat magnet yang paling menarik dan mudah diamati yakni interaksi antara kutub-kutub magnet. Ketika kamu mendekatkan dua buah magnet, terjadi peristiwa tarik menarik atau tolak menolak tergantung pada kutub mana yang berhadapan satu sama lain.

Gaya Tolak-menolak terjadi ketika kamu mendekatkan kutub yang sama dari dua magnet. Sebagai contoh, jika kutub utara magnet pertama didekatkan dengan kutub utara magnet kedua, maka kedua kutub akan saling tolak-menolak dan cenderung menjauhi satu sama lain. Semakin dekat jarak kedua kutub yang sama, semakin besar gaya tolak-menolak yang terjadi. Begitu pula ketika kutub selatan bertemu dengan kutub selatan.

Namun,

Gaya Tarik-menarik akan terjadi ketika kutub yang berbeda saling didekatkan. Ketika kutub utara magnet pertama didekatkan dengan kutub selatan magnet kedua, keduanya akan saling tarik-menarik dengan kuat. Inilah mengapa magnet dapat menempel pada pintu kulkas dengan sangat erat karena magnet di perekat pintu dan logam kulkas yang termagnetisasi mengalami gaya tarik-menarik yang kuat.

Fenomena ini terjadi karena medan magnet dari setiap kutub memiliki arah yang berbeda. Medan magnet yang arahnya sama akan saling menolak, sementara medan magnet yang arahnya berlawanan akan saling menarik. Gaya tarik atau tolak ini juga dipengaruhi oleh kekuatan medan magnet dari masing-masing magnet dan jarak antara kedua magnet tersebut. Semakin kuat magnet dan semakin dekat jarak antara keduanya, maka semakin besar pula gaya yang dihasilkan.

4. Gaya Magnet Dapat Menembus Penghalang

Salah satu sifat lain dari magnet adalah kemampuannya untuk menembus penghalang atau material lain. Ini berarti bahwa gaya tarik atau tolak magnet tidak terbatas hanya pada permukaan magnet, tetapi dapat bekerja di sekitarnya bahkan ketika ada penghalang di antara magnet dan benda yang ingin ditarik.

Kamu bisa membuktikan sifat magnet ini dengan percobaan sederhana di rumah. Coba ambil magnet dan letakkan di bawah selembar kertas putih. Kemudian taburkan serbuk besi di atas kertas. Maka serbuk besi tersebut akan bergerak dan menempel ke kertas sesuai dengan bentuk dan arah gaya magnet di bawahnya, meskipun ada penghalang kertas di antara magnet dan serbuk besi tersebut.

Namun, perlu diketahui bahwa kemampuan menembus penghalang ini memiliki batas tertentu. Penghalang yang terlalu tebal atau material tertentu yang dapat memblokir medan magnet akan mengurangi efektivitas gaya magnet. Logam ferromagnetik seperti besi, misalnya, dapat mengurangi kekuatan medan magnet karena besi itu sendiri dapat termagnetisasi dan menyerap sebagian dari medan magnet. Meskipun demikian, untuk penghalang tipis seperti kertas, plastik, atau kaca, gaya magnet tetap dapat menembus dengan efektif.

5. Magnet Memiliki Medan Magnet

Medan magnet adalah ruang atau area di sekitar magnet yang masih memiliki gaya tarik atau tolak dari magnet, meskipun kamu tidak dapat melihatnya dengan mata telanjang. Dengan kata lain, pengaruh magnet tidak hanya terbatas pada magnet itu sendiri, tetapi meluas ke sekitarnya dalam bentuk medan magnet.

Untuk memvisualisasikan medan magnet, kamu dapat melakukan percobaan yang sama seperti sebelumnya, taburkan serbuk besi di atas kertas dengan magnet di bawahnya. Serbuk besi akan membentuk pola garis-garis lengkung yang disebut garis gaya magnet. Pola ini menunjukkan arah dan kekuatan medan magnet. Bagian-bagian di mana garis-garis tersebut rapat menunjukkan medan magnet yang kuat, sedangkan bagian dengan garis-garis yang renggang menunjukkan medan magnet yang lemah.

Kekuatan medan magnet bergantung pada beberapa faktor, termasuk kekuatan magnet itu sendiri, jenis material magnet, dan jarak dari sumber magnet. Semakin kuat magnet dan semakin dekat dengan pusat magnet (terutama di kutub-kutubnya), maka semakin kuat pula medan magnet yang dihasilkan. Medan magnet inilah yang bertanggung jawab atas semua efek magnet, baik itu menarik benda, mengakibatkan tolak-menolak, maupun menembus penghalang. Dengan memahami medan magnet kamu akan memahami bagaimana teknologi magnetik seperti motor listrik, mesin MRI, dan turbin angin dapat berfungsi.

Jenis-jenis Magnet Berdasarkan Asalnya

Berdasarkan asalnya, magnet dibedakan menjadi dua, yaitu:

Magnet Alami adalah magnet yang ditemukan secara alami di alam tanpa campur tangan manusia. Magnet alami biasanya berbentuk seperti batu-batuan dengan komposisi mineral khusus yang memiliki sifat magnetik. Magnet alami pertama kali ditemukan di wilayah Magnesia di Yunani Kuno, dan itulah asal-usul nama “magnet” itu sendiri. Magnet alami memiliki sifat yang permanen artinya sifat kemagnetannya sangat sulit dihilangkan dan dapat bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama.

Magnet Buatan, di sisi lain, adalah magnet yang dibuat oleh manusia dengan sengaja untuk berbagai keperluan. Magnet buatan dibuat melalui berbagai metode, seperti menggosok material feromagnetik dengan magnet permanen, mengaliri arus listrik melalui kumparan kawat, atau menggunakan teknik induksi magnetik. Magnet buatan dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan spesifik dengan sifat-sifat magnetik yang dapat disesuaikan.

Jenis-jenis Magnet Berdasarkan Lama Kekuatannya

Berdasarkan lamanya kekuatan magnet, magnet dapat dibagi menjadi dua kategori penting:

Magnet Permanen (Magnet Tetap) adalah magnet yang mempertahankan sifat kemagnetannya untuk jangka waktu yang sangat lama, bahkan selamanya jika diperlakukan dengan baik. Magnet permanen umumnya dibuat dari bahan-bahan feromagnetik keras seperti baja dan berbagai jenis magnet tanah jarang (seperti neodymium). Sifat magnet elementer dalam magnet permanen teratur dengan sangat rapi dan stabil, sehingga sulit untuk diubah atau dihilangkan. Magnet permanen biasanya digunakan dalam aplikasi yang memerlukan kekuatan magnet yang konsisten dan tahan lama.

Magnet Sementara (Magnet Tidak Tetap) adalah magnet yang sifat kemagnetannya hanya bersifat sementara dan dapat hilang dengan relatif mudah. Magnet sementara biasanya dibuat dari bahan feromagnetik lunak seperti besi. Meskipun bahan-bahan ini dapat termagnetisasi, susunan magnet elementernya mudah berantakan ketika dibiarkan tanpa gaya magnet eksternal. Magnet sementara sering digunakan dalam aplikasi seperti elektromagnet, di mana sifat magnetik dapat diaktifkan dan dimatikan sesuai kebutuhan dengan mengaliri atau memutus arus listrik.

Jenis-jenis Magnet Berdasarkan Bahannya (Sifat Kemagnetisan)

Magnet juga dapat diklasifikasikan berdasarkan bagaimana sebuah material merespons terhadap medan magnet eksternal:

1. Bahan Feromagnetik

Bahan feromagnetik adalah material yang dapat ditarik oleh magnet dengan sangat kuat. Contoh bahan feromagnetik termasuk besi, baja, nikel, dan kobalt. Bahan-bahan ini memiliki sifat magnet elementer yang mudah diatur untuk membentuk magnet permanen atau sementara. Feromagnetik adalah kategori material yang paling berguna untuk aplikasi magnetik karena kekuatannya yang luar biasa.

2. Bahan Paramagnetik

Bahan paramagnetik adalah material yang dapat ditarik oleh magnet, tetapi dengan daya tarik yang sangat lemah. Contoh bahan paramagnetik termasuk alumunium, mangan, lithium, dan molibdenum. Meskipun daya tariknya lemah, bahan-bahan ini tetap menunjukkan respons terhadap medan magnet. Paramagnetik jarang digunakan untuk aplikasi magnetik praktis karena kekuatannya yang minimal.

3. Bahan Diamagnetik

Bahan diamagnetik adalah material yang menolak magnet dan tidak dapat ditarik oleh magnet sama sekali. Contoh bahan diamagnetik termasuk emas, perak, tembaga, merkuri, dan seng. Bahan diamagnetik sangat jarang digunakan dalam aplikasi magnetik karena respons negatifnya terhadap magnet.

Jenis-jenis Magnet Berdasarkan Bentuknya

Selain berbagai klasifikasi di atas, macam magnet juga sangat beragam dalam hal bentuk dan desain. Setiap bentuk magnet dirancang untuk aplikasi spesifik dengan tujuan dan kegunaan yang berbeda-beda.

1. Magnet Batang

Magnet batang memiliki bentuk seperti balok atau kubus yang memanjang dengan kedua ujung yang datar. Kutub-kutub magnet batang terletak di kedua ujungnya. Magnet batang sering digunakan untuk aplikasi sederhana seperti kunci pada pintu lemari, kotak hadiah, tas, dan berbagai peralatan rumah tangga lainnya. Bentuknya yang sederhana membuatnya mudah digunakan dan dipasang.

2. Magnet U (Magnet Berbentuk Huruf U)

Magnet U memiliki bentuk melengkung yang menyerupai huruf U dengan kedua ujungnya sejajar satu sama lain. Meskipun ujung-ujungnya sejajar, kutub-kutubnya tetap berlawanan. Ujung satunya adalah kutub utara dan ujung yang lain adalah kutub selatan. Magnet U sering digunakan dalam percobaan fisika dan aplikasi yang memerlukan penguatan medan magnet antara dua kutub.

3. Magnet Ladam (Tapal Kuda)

Magnet ladam, juga dikenal sebagai magnet tapal kuda, memiliki bentuk yang menyerupai tapal kuda kuda (berbentuk lengkung). Bentuk ini sangat mirip dengan magnet U, dan keduanya memiliki karakteristik yang serupa dalam hal penentuan kutub dan pola garis gaya magnet. Magnet ladam biasanya digunakan untuk mengangkat benda-benda metalik berat dalam aplikasi industri.

4. Magnet Silinder

Magnet silinder memiliki bentuk lurus dan memanjang dengan penampang berbentuk lingkaran (mirip dengan tabung). Kutub-kutub magnet silinder terletak di kedua ujungnya, sama seperti magnet batang. Magnet silinder sering digunakan dalam aplikasi medis dan peralatan presisi tinggi karena bentuknya yang memungkinkan pemusatan gaya magnet pada area yang sangat spesifik.

5. Magnet Cincin

Magnet cincin memiliki bentuk melingkar dengan lubang di tengahnya (seperti cincin atau donat). Berbeda dengan magnet batang atau silinder, kutub-kutub magnet cincin tidak terletak di ujungnya, melainkan pada kedua sisi permukaan magnet. Magnet cincin sering digunakan dalam speaker, radio, motor listrik, dan berbagai peralatan elektronik lainnya.

6. Magnet Cakram (Magnet Keping)

Magnet cakram memiliki bentuk kepingan melingkar yang tipis, menyerupai koin atau cakram. Sama seperti magnet cincin, kutub-kutub magnet cakram terletak pada kedua sisi permukaannya. Magnet cakram sangat sering digunakan dalam aplikasi modern seperti speaker, headphone, motor listrik kecil, dan peralatan elektronik pintar.

Jenis-Jenis Magnet Permanen Berdasarkan Material

Jika kita berbicara tentang macam magnet permanen secara lebih spesifik, ada empat jenis magnet yang sering digunakan dalam aplikasi industri modern:

1. Magnet Alnico (Aluminium-Nikel-Kobalt)

Magnet Alnico telah digunakan sejak tahun 1930-an. Magnet ini terbuat dari kombinasi aluminium, nikel, kobalt, dan besi. Keunggulan Alnico adalah suhu kerja yang sangat tinggi (hingga 525°C) dan tidak memerlukan pelapisan khusus. Namun, energi magnetiknya relatif rendah dibandingkan jenis magnet modern lainnya, dan mudah didemagnetisasi.

2. Magnet Ferit (Keramik)

Magnet Ferit, juga dikenal sebagai magnet keramik, telah digunakan sejak tahun 1950-an. Magnet ini terdiri dari oksida besi dan strontium atau barium karbonat. Keunggulannya adalah harga yang sangat murah, bobot yang ringan, dan tidak memerlukan pelapisan. Namun, energi magnetiknya juga rendah dan material ini cukup rapuh.

3. Magnet SmCo (Samarium Kobalt)

Magnet SmCo telah digunakan sejak tahun 1960-an dan menawarkan energi magnetik yang tinggi dengan stabilitas suhu yang sangat baik. Magnet ini memiliki suhu Curie (titik di mana magnet kehilangan sifat magnetnya) mencapai 720-800°C. Kelemahannya adalah harga yang sangat mahal dan material yang rapuh. Magnet SmCo sering digunakan dalam aplikasi aerospace dan militer.

4. Magnet NdFeB (Neodymium Iron Boron)

Magnet NdFeB adalah jenis magnet permanen paling kuat yang tersedia secara komersial saat ini. Magnet ini terbuat dari neodymium, besi, dan boron, dengan jejak elemen lainnya seperti disprosium untuk meningkatkan performa. Energi magnetiknya super tinggi, membuatnya ideal untuk aplikasi modern seperti motor listrik pada kendaraan listrik dan peralatan elektronik canggih. Kelemahannya adalah suhu kerja yang terbatas (80-200°C) dan rentan terhadap korosi, sehingga memerlukan lapisan pelindung.

Cara Menghilangkan Sifat Magnet

Cara Menghilangkan Sifat Magnet

Menariknya, sifat magnet dapat dihilangkan atau dilemahkan melalui berbagai metode. Mengetahui cara menghilangkan sifat magnet penting untuk keperluan tertentu, seperti memperbaiki alat yang tidak sengaja termagnetisasi atau melakukan eksperimen ilmiah. Berikut adalah cara-cara yang dapat digunakan untuk menghilangkan sifat kemagnetan:

1. Dipanaskan (Demagnetisasi Termal)

Salah satu cara paling efektif untuk menghilangkan sifat magnet adalah dengan memanaskan magnet hingga mencapai suhu Curie (atau titik Curie). Suhu Curie adalah suhu tertentu di mana struktur magnet elementer dalam material menjadi tidak teratur akibat energi panas yang tinggi. Ketika magnet dipanaskan melampaui suhu Curie, magnet elementer akan bergerak secara acak dan tidak lagi teratur, sehingga sifat kemagnetannya hilang.

Sebagai contoh, magnet ferit memiliki suhu Curie sekitar 450°C, sementara magnet SmCo memiliki suhu Curie 720-800°C. Namun, metode ini harus dilakukan dengan hati-hati karena pemanasan yang ekstrem dapat merusak material magnet atau benda di sekitarnya.

2. Dipukul atau Dijatuhkan (Demagnetisasi Mekanik)

Cara lain untuk menghilangkan sifat magnet adalah dengan memukul magnet berkali-kali menggunakan benda keras seperti palu, atau dengan melemparkan magnet ke permukaan yang keras. Pukulan dan tekanan mekanik akan mengacak susunan magnet elementer dalam material, menyebabkan orientasi domain magnetik menjadi tidak teratur. Akibatnya, sifat kemagnetannya akan berkurang atau hilang seluruhnya.

Namun, metode ini memiliki keterbatasan. Magnet yang sangat kuat perlu dipukul berkali-kali untuk menghilangkan sifat kemagnetannya. Selain itu, hasilnya tidak selalu konsisten karena kekuatan pukulan sulit distandarkan.

3. Dialiri Arus Bolak-Balik (AC) melalui Solenoida (Demagnetisasi Elektrik)

Metode paling efektif dan terkontrol untuk menghilangkan sifat magnet adalah dengan mengaliri magnet dengan arus listrik bolak-balik (AC) melalui solenoida (kumparan kawat). Arus bolak-balik memiliki karakteristik unik, arahnya berubah secara cepat dan terus-menerus. Ketika arus AC dialirkan melalui solenoida yang mengelilingi magnet, akan tercipta medan magnet bolak-balik yang kuat.

Proses demagnetisasi AC dimulai dengan tegangan AC yang tinggi, kemudian secara bertahap tegangan dikurangi sampai mencapai nol. Fluktuasi medan magnet yang cepat ini akan mengubah arah magnet elementer secara bolak-balik dengan intensitas yang menurun, pada akhirnya membuat semua magnet elementer menjadi acak dan tidak teratur. Metode ini sangat efektif dan tidak merusak material.

4. Menggunakan Demagnetizer (Alat Khusus)

Ada juga alat khusus yang disebut demagnetizer yang dirancang khusus untuk menghilangkan sifat magnet. Demagnetizer bekerja dengan menghasilkan medan magnet bolak-balik yang kuat namun secara bertahap semakin melemah. Alat ini sangat praktis untuk berbagai keperluan, mulai dari menghilangkan magnetisasi pada obeng atau alat-alat logam lainnya hingga aplikasi industri yang lebih kompleks.

Aplikasi Sifat Magnet dalam Kehidupan Sehari-hari

Aplikasi Sifat Magnet dalam Kehidupan Sehari-hari

Sekarang setelah kita memahami sifat magnet dan berbagai macam magnet, mari kita lihat bagaimana magnet digunakan dalam kehidupan sehari-hari kita:

Pintu Kulkas dan Peralatan Rumah Tangga

Magnet di perekat pintu kulkas memanfaatkan sifat tarik-menarik antara kutub berlawanan untuk menjaga pintu tetap tertutup dengan sempurna. Selain itu, magnet juga digunakan dalam berbagai peralatan rumah tangga seperti kotak hadiah magnetik, tas dengan kunci magnet, dan papan catur magnetik.

Kompas untuk Navigasi

Kompas adalah salah satu aplikasi paling penting dari magnet jarum. Magnet jarum di dalam kompas akan selalu menunjuk ke arah utara-selatan bumi saat berinteraksi dengan medan magnet bumi. Ini memungkinkan navigator, pilot, dan petualang untuk menentukan arah dengan akurat.

Motor Listrik dan Kipas Angin

Motor listrik di kipas angin, blender, dan berbagai peralatan elektronik lainnya menggunakan magnet permanen dan elektromagnet untuk menghasilkan gerakan rotasi. Arus listrik yang mengalir melalui kumparan kawat menciptakan medan magnet yang berinteraksi dengan magnet permanen, menghasilkan rotasi yang mampu menggerakkan alat.

Bel Listrik

Bel listrik menggunakan elektromagnet untuk menggerakkan palu yang memukul lonceng. Ketika arus listrik mengalir, elektromagnet menjadi kuat dan menarik palu secara cepat, menciptakan bunyi lonceng yang kita dengar.

Speaker dan Pengeras Suara

Speaker menggunakan magnet untuk mengubah sinyal listrik menjadi getaran mekanik yang menghasilkan suara. Magnet cincin atau magnet cakram di dalam speaker berinteraksi dengan kumparan kawat untuk menciptakan vibrasi yang menggerakkan membran speaker.

Dinamo Sepeda

Dinamo sepeda menggunakan rotasi roda untuk menghasilkan listrik melalui induksi elektromagnetik. Magnet yang berputar membuat medan magnet yang berubah, menginduksi arus listrik yang menyalakan lampu sepeda.

Mesin MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Mesin MRI di rumah sakit menggunakan magnet yang sangat kuat untuk menciptakan gambar terperinci dari struktur internal tubuh. Magnet ini menciptakan medan magnet yang sangat kuat yang menyelaraskan atom-atom hidrogen dalam tubuh, memungkinkan diagnosis medis yang akurat.

Turbin Angin

Turbin angin modern menggunakan generator dengan magnet permanen untuk mengubah energi kinematik angin menjadi energi listrik. Rotasi turbin membuat magnet berputar, menciptakan perubahan medan magnet yang menginduksi arus listrik.

Magnet merupakan komponen penting dalam teknologi yang mengubah hidup kita setiap hari. Mulai dari peralatan rumah tangga yang sederhana, teknologi medis modern, pembangkit energi terbarukan, hingga transportasi elektrik masa depan, semua memanfaatkan prinsip-prinsip dan sifat dasar magnet yang telah kita pelajari diatas.

Dear GOD, Thank you so much for all Your stupid blessing to stupid people like me :)

Share:

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.