Inilah, 5 Manfaat Full Day School Bagi Anak dan Orang Tua

Mengenal Sistem Pembelajaran Full Day School

Sebagian dari Anda mungkin pernah mendengar istilah “full day school”, yakni proses belajar mengajar yang berlangsung selama 8 jam mulai dari hari senin hingga hari jum’at. Dimana umumnya, proses belajar mengajar ini akan berlangsung mulai dari pukul 06.45 pagi hingga 15.30 sore. Full day school sendiri sejatinya bukanlah sebuah sistem belajar yang cukup baru di dunia pendidikan. Sebab banyak sekolah negeri dan swasta yang telah memberlakukan sistem full day school diberbagai kota besar di Indonesia. Seperti, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan masih banyak lagi.

Kemendikbud sendiri bahkan telah mencanangkan hal ini sejak tahun 2017 silam. Sebagaimana yang tetuang dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017. Meski demikian, pemerintah tetap memberi kebebasan kepada setiap sekolah untuk memulainya secara bertahap. Sesuai dengan sarana dan prasarana yang mereka miliki.

Mengenal Sistem Pembelajaran “Full Day School”

Manfaat Full Day School Bagi Anak dan Orang Tua

Lantas apa saja sebetulnya manfaat pemberlakuan full day school, baik bagi anak maupun orang tua? Dan adakah dampak negatif yang mungkin akan dirasakan anak setelah menjalanin sistem ini? Mari kita coba bahas satu-persatu

Sejatinya, ada jauh lebih banyak manfaat pemberlakuan full day school ketimbang dapak negatifnya. Seperti:

1. Anak tidak perlu lagi mengikuti bimbel atau kursus tambahan diluar jam sekolah

Yap, berbeda dengan sistem belajar yang telah cukup umum kita jumpai di Indonesia. Sistem belajar full day school memungkinkan anak untuk lebih memahami dan menguasai materi pelajarannya bahkan tanpa perlu mengikuti bimbel atau kursus tambahan diluar jam sekolah. Hal ini karena para guru memiliki waktu yang jauh lebih panjang untuk menjelaskan setiap materi pelajaran secara lebih mendetail. Sekaligus menyampaikannya dengan metode yang jauh lebih menarik dan mudah dipahami anak.

2. Mengurangi kenakalan diluar jam sekolah

Sekalipun banyak orang tua yang merasa kasihan karena harus melihat putra putri mereka belajar seharian penuh disekolah. Namun disisi lain, banyak dari mereka yang sebetulnya justru mendukung sistem belajar mengajar yang seperti ini. Hal ini karena anak tidak lagi memiliki cukup waktu dan tenaga untuk melakukan hal lain yang dapat merugikan dirinya seperti terlibat tawuran, melakukan aksi vandalisme, atau sekedar mencoba-coba untuk menghisap rokok bersama teman-temannya selepas pulang sekolah.

3. Memiliki waktu interaksi yang jauh lebih panjang dengan guru dan teman-temannya

Anak-anak yang menjalani sistem full day school umumnya memiliki circle pertemanan yang jauh lebih solid. Hal ini karena intensitas pertemuan mereka yang juga jauh lebih sering. Banyak dari mereka yang bahkan tidak lagi melihat para guru sebagai sosok yang “killer” atau “sangat menakutkan”.

4. Memiliki lebih banyak waktu dengan keluarga

Mengapa demikian? Pertama karena mereka tidak perlu lagi mengikuti bimbel atau kursus tambahan diluar jam sekolah. Kedua, mereka juga tidak perlu mengerjakan PR hingga larut malam, karena biasanya semua tugas dan soal latihan akan langsung diberikan dan dikerjakan saat itu juga. Dan yang terakhir, mereka bisa menikmati akhir pekan yang jauh lebih panjang dengan anggota keluarga yang lain karena proses belajar mengajar hanya akan berlangsung hingga hari jum’at.

5. Orang tua bisa sedikit bernafas lega, karena seharian penuh anak ada dibawah pengawasan guru dan pihak sekolah

Sebagai orang tua, tentu kita tidak bisa mengawasi anak seharian penuh. Karena ada rutinitas yang juga harus kita lakukan seperti pergi bekerja. Nah, dengan adanya sistem full day school para orang tua tak lagi perlu cemas dengan keadaan anak-anak mereka. Karena sepanjang hari, anak akan terus diawasi oleh para guru dan pihak sekolah.

Lalu adakah dampak negatifnya?

Menurut sebagian orang, pemberlakuan full day school hanya akan membuat anak lebih stress disekolah. Namun benarkah demikian? Hal pertama yang harus kita ingat adalah dalam sistem full day school anak akan diberikan waktu istirahat per 2 jam sekali. So, nggak ada istilah anak akan telat makan atau kurang istirahat. Yang kedua, mereka juga tidak akan belajar selama seharian penuh. Karena biasanya pihak sekolah akan menggunakan jam pelajaran terakhir untuk kegiatan ekstrakulikuler. Bandingkan dengan anak-anak yang hanya bersekolah setengah hari, namun sepulang sekolah masih harus mengerjakan PR, mengikuti bimbel. Bahkan masih harus sekolah dihari sabtu dan mengikuti ekstrakulikuler dihari minggu. Bisa jadi, mereka jauh lebih stress dengan rutinitas sekolah yang seakan tanpa henti setiap minggunya.

Namun lagi-lagi pilihan ada ditangan Anda masing-masing 🙂

Advertisement

Leave a reply:

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer